Tanggal 21 April ini kita memperingati hari Kartini. Sejenak kita akan merenung makna emansipasi terutama bagi kita kaum perempuan. Dulu R.A Kartini memperjuangkan kesetaraan derajat antara kaum perempuan dengan kaum laki-laki dan langkah beliau berhasil dengan diperbolehkannya perempuan bersekolah.
Pada perkembangan berikutnya sampai dengan hari ini, makin banyak perempuan yang berpendidikan tinggi, berkarier tinggi baik bidang publik maupun politik. Yang sering menjadi pertanyaan adalah bagaimana dengan peran mereka (terutama bagi perempuan yang sudah mempunyai anak) sebagai seorang “pendidik” bagi anaknya ? Ada banyak fakta yang menunjukkan bahwa anak-anak tidak lagi diasuh dan dididik oleh ibu mereka, tetapi justru diasuh dan dididik oleh pembantu (babysister) atau saudaranya (orangtua maupun bude atau buliknya). Dalam hal ini penulis tidak bermaksud untuk merendahkan kemampuan mereka, tetapi hanya mencoba untuk mempertanyakan bagaimana dan dimana peran ibu terhadap anaknya. Coba masing-masing dari kita merenungkan berapa jam kita bisa bertemu dengan anak-anak kita dan bukan hanya bertemu saja tetapi menjalin komunikasi dengan mereka. Jangan-jangan kita hanya bertemu ketika anak-anak sudah memasuki jam tidur malamnya, dimana pada saat itu komunikasi antara ibu dan anak sudah sangat tidak efektif. Ketika anak mencoba meminta perhatian, terkadang kita menganggapnya hanya kerewelan biasa atau malah kenakalan.
Penulis berkeyakinan bahwa R.A. Kartini dalam memperjuangkan nasib perempuan tidak bertujuan sampai sejauh itu (kebablasan ?), karena bahwa seorang perempuan (yang mempunyai anak) yang bekerja atau berkarier ternyata taruhannya adalah anak-anaknya (pendidikan,mental,psikologis,emosi dan sebagainya).
Marilah di hari Kartini ini, kita bersama-sama merenungkan apakah emansipasi Kartini berarti juga menghilangkan hak-hak anak untuk mendapat perhatian, kasih sayang dan pendidikan dari ibu mereka sendiri. Selamat hari Kartini !!
By Dvina Indira
Filed under: Uncategorized